(Bukan) Individualistis

Memasuki abad milenium rasanya kita kerap kali mendengar kata individulistis. Kata yang lebih sering dialamatkan untuk menggambarkan pola sosialisasi sebagian masyarakat, khususnya yang bermukim di kota-kota besar. Indivualistis merupakan pola sosialisasi yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan cenderung untuk seminimal mungkin berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Mereka lebih nyaman menghabiskan waktu mereka sendiri dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat personal.

Berbeda halnya bagi mereka yang lebih senang untuk melakukan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Bertemu dengan berbagai macam karakter dan kepribadian. Mereka merasa nyaman berbaur dengan hiruk-pikuk rutinitas bersama. Umumnya kita dapat menjumpai mereka pada daerah perkampungan atau desa.

Agaknya kita harus lebih cermat dalam memperhatikan mereka yang sering kali berlabelkan kaum individualistis. Menurut persepsi saya, hakikatnya tak ada makhluk indivualistis di dunia ini. Bagaimana pun manusia akan tetap membutuhkan manusia lain dalam hidupnya. Mungkin jika terdapat segelintir orang yang seolah-olah tak membutuhkan orang lain, percayalah ia tetap membutuhkan peran manusia lain dalam hidupnya, kalau pun ia bersikeras tidak mengakui, setidaknya ia tetap membutuhkan orang lain untuk mengurusi pemakamannya ketika ia meninggal.

Label individualistis sepertinya tak ada lagi untuk masa-masa sekarang. Terlebih, kini menjamurnya pengguna jejaring social atau social media mengindikasikan bahwa manusia sangat membutuhkan orang lain. Apa lagi, pengguna tersebut mayoritas merupakan masyarakat yang hidup di kota-kota besar yang justru mereka sering kali bahkan dicap sebagai kaum individualistis.

Mungkin secara fisik mereka yang hidup di perkotaan, terlihat kasat mata individualistis. Namun jika kita jeli, justru mereka lah pengguna aktif berbagai social media yang ada. Mereka terus memperbaharui social media mereka dan bahkan mereka biasanya memiliki lebih dari satu macam social media yang digunakan. Tentunya kita tahu, bahwa pada social media, seorang pengguna akan terhubung dengan ratusan bahkan ribuan orang yang berkawan dengan mereka, baik secara langsung maupun tidak. Dalam social media mereka tersebut, tentunya mereka melakukan interaksi dengan pengguna lain. Bagi penghuni kota besar, frekuensi interaksi mereka dalam social media dengan pengguna lain dapat dikatakan sangat tinggi. Bayangkan jika seseorang yang dilabeli individualistis memiliki lebih dari satu social media dan pada masing-masing social media tersebut mereka memiliki kawan ratusan bahkan ribuan, berapa banyak interaksi yang mereka lakukan, apakan itu dapat mengindikasikan bahwa dia seseorang yang individualistis?

Belum lagi, jenis social media yang ditawarkan kini beragam. Tidak hanya media yang menggunakan media teks sebagai cara penyampaian komunikasi, namun juga terdapat layanan lain yang ditawarkan berupa komunikasi real time yang dapat mempertemukan wajah dan suara dua orang atau lebih yang berada pada area geografis yang berbeda. Dan lagi-lagi, sebagain besar pengguna layanan tersebut merupakan sebagian besar orang-orang yang mendapat julukan anak kota. Apakah itu menunjukkan mereka indivudualistis?

Untuk aksi-aksi sosial dan bentuk kepedulian lainya kini sebagian besar memanfaatkan media social sebagai sarana publikasi. Informasi yang disampaikan melalui media social akan lebih cepat tersebar dan tidak hanya menjangkau mereka yang berada pada lokasi yang sama dengan tujuan aksi tersebut, tetapi juga mereka yang yang berada nun jauh di tempat lain. Asalkan mereka memilki kepedulian, maka mereka dapat dengan mudah terlibat dalam aksi social tersebut. Dan siapakah pengguna terbesar dari sosial media tersebut jika bukan masyarakat kota yang justru dideskriditkan sebagai makhluk individualistis?

Seharusnya kita dapat lebih bijak sebelum melabeli orang lain dengan stempel indivualistis. Tak dapat dipungkiri bahwa kini telah terjadi pergeseran media, yang semula menitikberatkan pada media fisik manusia, namun kini bergeser pada ruang maya. Mungkin yang harus lebih kita upayakan bersama adalah bagaimana menumbuhkan kembali rasa saling membutuhkan antar manusia dalam dunia fisik, seperti silaturahmi secara langsung dengan mengunjungi kawan kita atau menjenguk kawan kita yang sakit daripada hanya sekedar mengirimkan ucapan melalui social media semata. Bukankan akan lebih indah jika akita bisa kembali bersama berbaur dalam dunia nyata untuk bersama membuat aksi nyata untuk kita semua. Akan terasa lebih bermakna jika kita menebar senyum kepada sesama secara langsung ketimbang hanya mengirimkan berbagai emotion dalam social media kita. Ayo kawan, hidup kita tak semata diri kita pribadi dan orang-orang di social media kita, tetapi ada juga tetangga kita, teman kuliah, atau teman kantor kita. Alangkah baiknya jika kita bisa lebih mengenal dan peduli terhadap mereka karena tanpa disadari merekalah orang-orang yang berada dekat dengan kita.

Advertisements

6 responses to “(Bukan) Individualistis

  • dase kurnia

    bagus nia ulasannya, tadi sebetulnya tadi baru baca alinea pertama aa sempat mau protes, tapi gak jadi karena kemudian nia ulas pada alinea berikutnya. yang aa maksud sifat2 orang yg tinggal dikota, sebetulnya tidak semua punya hati individualistis karena mereka ada alasan sendiri kenapa tidak selalu berkumpul dengan tetangga2 se lingkungan, selain alasan sibuk ada juga alasan katanya kalau selalu berkumpul (ngobrol2) akhirnya bisa2 usil ngomongin orang he..he..(mengumpat gitu). Sebetulnya orang2 yang tinggal dikota2 ataupun diperumahan2 pun kalau betul2 ada yg mengkoordinir mereka mau hidup bermasyarakat contohnya mengadakan gotong royong ataupun sama2 pergi ke mesjid. tapi aa minta maaf ya udah sok tahu,,,jangan marah. kenapa aa ngomong begini, isu seperti ini bukan hanya timbul di negeri kita, ditempat aa tinggalpun juga begitu, selalu mengulas nilai2 cara bermasyarakat ketika ini.

    • Nia

      iya A, kadang orang suka nilai orang dari luarnya aja tanpa tau alasan mereka berbuat kaya gitu,
      harus ada wadah untuk jadi media sosialisasi yang bermanfaat,
      makasih ya A masukkannya, seneng jadi ada temen diskusi 🙂
      jadi penegn kaya Aa merantau ke tempat-tempat lain buat belajar banyak hal 😀

  • dase kurnia

    ya mudah2an untuk kedepannya, hati mamah terbuka untuk ngijinin nia merantau. sabar aja ya…

  • Nia

    amiin, iya Aa…. 😀

  • Halida

    mantap mantaap nih tulisannya Teh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: